tata cara mandi jinabah

MAKALAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN SYARIAH
KUALITAS MASYARAKAT TERHADAP PEMAHAMAN MANDI JINABAT
umsulogohitamputih.jpg


DI SUSUN OLEH:


Efri Yanti Hasibuan (1401280019)
Kiki Windy Lestari (1401280005)
Ilham Suryani (1401280003)
Qyusina (1401280002)
Junaidi (1401280031)
Fhitri Pulungan (1401280021)


BISNIS MANAJEMEN SYARIAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATRA UTARA
2017
KATA PENGANTAR
الرَّحِيمِ الرَّحْمنِ اللهِ بِسْمِ


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

            Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’alla, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul kualitas masyarakat terhadap pemahaman mandi jinabat. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah pengembangan kepribadian syariah.
            Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi banyak kalangan dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.






Medan, 13 maret 2017

                                                                                                            Kelompok 2



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................  i
DAFTAR ISI .................................................................................................................    ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG ........................................................................................  1
B.     RUMUSAN MASALAH ..................................................................................    1
BAB II : KERANGKA TEORISTIS
A.    PENGERTIAN MANDI JINABAT.................................................................... 2
B.     HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI JANABAH ................................ 2
C.     FARDHU MANDI JANABAH.......................................................................... 5
D.    SUNNAH MANDI JANABAH.......................................................................... 5
E.     HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN KETIKA MANDI.................. 6
F.      HAL-HAL YANG HARAM DIKERJAKAN.................................................... 8
G.    TATACARA MANDI JINABAH ....................................................................... 8
H.    HIKMAH MANDI JANABAH ........................................................................... 10
I.       HASIL WAWANCARA BERSAMA DOSEN .................................................. 11

BAB III : PENUTUP
A.    SIMPULAN .........................................................................................................  20
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................  21













BAB I
  PENDAHULUAN


A.      LATAR BELAKANG

Mandi besar, mandi jinabah atau mandi wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat. Maka dari itu kita sebagai ummat muslim sangat penting untuk mengetahui bagaimana tata cara Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW. Agar ibadah-ibadah yang kita lakukan bisa diterima dan mendapatkan pahala.







B.   RUMUSAN MASALAH

1.    Pengertian Mandi Janabah
2.    Hal-hal Yang Mewajibkan Mandi Janabah
3.    Fardhu Mandi Janabah
4.    Sunnah Mandi Janabah
5.    Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi
6.    Hal-Hal Yang Haram Dikerjakan
7.    Tatacara Mandi Janabah
8.    Hikmah Mandi Janabah



BAB II
 PEMBAHASAN


1.      PENGERTIAN MANDI JANABAH
       Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-ghusl ( الغسل ). Kata ini memiliki makna yaitu menuangkan air ke seluruh tubuh. Sedangkan secara istilah, para ulama menyebutkan definisinya yaitu :                               
Memakai air yang suci pada seluruh badan dengan tata cara tertentu dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.
Adapun kata Janabah dalam bahasa Arab bermakna jauh ( البُعْدُ ) dan lawan dari dekat ( ضِدُّ القرَابَة )
Sedangkan secara istilah fiqih, kata janabah ini menurut Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah berarti      
Janabah secara syar'i dikaitkan dengan seseorang yang keluar mani atau melakukan hubungan suami istri, disebut bahwa seseorang itu junub karena dia menjauhi shalat, masjid dan membaca Al-Quran serta dijauhkan atas hal-hal tersebut.74
Mandi Janabah sering juga disebut dengan istilah 'mandi wajib'. Mandi ini merupakan tatacara ritual yang bersifat ta`abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats besar.


2.       HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI JANABAH
Para ulama menetapkan paling tidak ada 6 hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi janabah.Tiga hal di antaranya dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Tiga lagi sisanya hanya terjadi pada perempuan.

a.        Keluar Mani
    Keluarnya air mani menyebabkan seseorang mendapat janabah, baik dengan cara sengaja (masturbasi) atau tidak. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :
Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya sperma). (HR. Bukhari dan Muslim).
       Namun ada sedikit perbedaan pandangan dalam hal ini di antara para fuqaha'. Mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al- Hanabilah mensyaratkan keluarnya mani itu karena syahwat atau dorongan gejolak nafsu, baik keluardengan sengaja atau tidak sengaja. Yang penting, ada   dorongan syahwat seiring dengan keluarnya mani. Maka barulah diwajibkan mandi janabah.                                          
       Sedangkan mazhab Asy-syafi'iyah memutlakkan keluarnya mani, baik karena syahwat atau pun karena sakit, semuanya tetap mewajibkan mandi janabah.
Sedangkan air mani laki-laki itu sendiri punya ciri khas yang membedakannya dengan wadi dan mazi :
-          Dari aromanya, air mani memiliki aroma seperti aroma 'ajin (adonan roti). Dan seperti telur bila telah mengering.
-          Keluarnya dengan cara memancar.
-          Rasa lezat ketika keluar dan setelah itu syahwat jadi mereda.

Mani Wanita
Dari Ummi Salamah radhiyallahu anha bahwa Ummu Sulaim istri Abu Thalhah bertanya,"Ya Rasulullah, sungguh Allah tidak mau dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi bila keluar mani? Rasulullah SAW menjawab,"Ya, bila dia melihat mani keluar". (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa wanita pun mengalami keluar mani, bukan hanya laki-laki.

b.       Bertemunya Dua Kemaluan
   Yang dimaksud dengan bertemunya dua kemaluan adalah kemaluan laki-laki dan kemaluan wanita. Dan istilah ini disebutkan dengan maksud persetubuhan (jima'). Dan para ulama membuat batasan : dengan lenyapnya kemaluan (masuknya) ke dalam faraj wanita, atau faraj maupun faraj hewan.
Termasuk juga bila dimasukkan ke dalam dubur, baik dubur wanita ataupun dubur laki-laki, baik orang dewasa atau anak kecil. Baik dalam keadaan hidup ataupun dalam keadaan mati. Semuanya mewajibkan mandi, di luar larangan perilaku itu.
 Hal yang sama berlaku juga untuk wanita, dimana bila farajnya dimasuki oleh kemaluan laki-laki, baik dewasa atau anak kecil, baik kemaluan manusia maupun kemaluan hewan, baik dalam keadaan hidup atau dalam keadaan mati, termasuk juga bila yang dimasuki itu duburnya. Semuanya mewajibkan mandi, di luar masalah larangan perilaku itu.
       Semua yang disebutkan di atas termasuk hal-hal yang mewajibkan mandi, meskipun tidak sampai keluar air mani. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :
Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila dua kemaluan bertemu atau bila kemaluan menyentuh kemaluan lainnya, maka hal itu mewajibkan mandi janabah. Aku melakukannya bersama Rasulullah SAW dan kami mandi.
Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila seseorang duduk di antara empat cabangnya kemudian bersungguh-sungguh (menyetubuhi), maka sudah wajib mandi. (HR. Muttafaqun 'alaihi).
Dalam riwayat Muslim disebutkan : "Meski pun tidak keluar mani"

c.       Meninggal
       Seseorang yang meninggal, maka wajib atas orang lain yang masih hidup untuk memandikan jenazahnya. Dalilnya adalah sabda Nabi Saw tentang orang yang sedang ihram tertimpa kematian :
Rasulullah SAW bersabda,"Mandikanlah dengan air dan daun bidara`. (HR. Bukhari dan Muslim)

d.       Haidh
   Haidh atau menstruasi adalah kejadian alamiyah yang wajar terjadi pada seorang wanita dan bersifat rutin bulanan. Keluarnya darah haidh itu justru menunjukkan bahwa tubuh wanita itu sehat. Dalilnya adalah firman Allah SWT dan juga sabda Rasulullah SAW :
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al- Baqarah : 222)
Nabi SAW bersabda,`Apabila haidh tiba, tingalkan shalat, apabila telah selesai (dari haidh), maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan Muslim)

e.        Nifas
  Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita setelah melahirkan. Nifas itu mewajibkan mandi janabah, meski bayi yang dilahirkannya itu dalam keadaan mati. Begitu berhenti dari keluarnya darah sesudah persalinan atau melahirkan, maka wajib atas wanita itu untuk mandi janabah.
    Hukum nifas dalam banyak hal, lebih sering mengikuti hukum haidh. Sehingga seorang yang nifas tidak boleh shalat, puasa, thawaf di baitullah, masuk masjid, membaca Al-Quran, menyentuhnya, bersetubuh dan lain sebagainya.

f.       Melahirkan
          Seorang wanita yang melahirkan anak, meski anak itu dalam keadaan mati, maka wajib atasnya untuk melakukan mandi janabah. Bahkan meski saat melahirkan itu tidak ada darah yang keluar. Artinya, meski seorang wanita tidak mengalami nifas, namun tetap wajib atasnya untuk mandi janabah, lantaran persalinan yang dialaminya.

3.       FARDHU MANDI JANABAH
        Untuk melakukan mandi janabah, maka ada tiga hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun/pokok:
a.       Niat
b.       Menghilangkan Najis
c.        Meratakan Air
   
4.       SUNNAH MANDI JANABAH
       Rasulullah SAW telah memberikan contoh hidup bagaimana sebuah ritual mandi janabah pernah beliau lakukan, lewat laporan dari istri beliau, ibunda mukminin, Aisyah radhiyallahu ta'ala anha.

Aisyah RA berkata,`Ketika mandi janabah, Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya, kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudhu seperti wudhu` orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali, kemudia beliau membersihkan seluruh tubuhnya dengan air kemudia diakhir beliau mencuci kakinya (HR Bukhari/248 dan Muslim/316)

Dari ’Aisyah radliyallahu anha dia berkata, ”Jika Rasulullah SAW mandi karena janabah, maka beliau mencuci kedua tangan, kemudian wudhu’ sebagaimana wudhu beliau untuk sholat, kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan kedua tangan beliau, hingga ketika beliau menduga air sudah sampai ke akar-akar rambut, beliau mengguyurnya dengan air tiga kali, kemudian membasuh seluruh tubuhnya”. ’Aisyah berkata, ”Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dari satu bejana, kami mencibuk dari bejana itu semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
      Dari kedua hadits di atas, kita bisa rinci sebagai berikut :

- Mencuci Kedua Tangan
     
- Mencuci Dua Kemaluan

- Membersihkan Najis

- Berwudhu
     
-  Sela-sela Jari

-  Menyiram kepala

- Membasahi Seluruh Badan
     
-  Mencuci kaki
     


5.      HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN KETIKA MANDI

a.        Mendahulukan anggota kanan
Mendahulukan anggota kanan dari anggota kiri seperti dalam berwudhu`. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh hadits dari Aisyah, ia berkata:
Rasulullah SAW menyenangi untuk mendahulukan tangan kanannya dalam segala urusannya; memakai sandal, menyisir dan bersuci (HR Bukhari/5854 dan Muslim/268)

b.       Tidak perlu berwudhu lagi setelah mandi.
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, ia berkata:
Rasulullah SAW mandi kemudian shalat dua rakaat dan sholat shubuh, dan saya tidak melihat beliau berwudhu setelah mandi (HR Abu Daud, at-Tirmidzy dan Ibnu Majah)

6.       HAL-HAL YANG HARAM DIKERJAKAN
Orang yang dalam keadaan janabah diharamkan melakukan beberapa pekerjaan, lantaran pekerjaan itu mensyaratkan kesucian dari hadats besar. Di antara beberapa pekerjaan itu adalah :

a.        Shalat
Shalat adalah ibadah yang mensyaratkan kesucian dari hadats kecil maupun hadats besar. Seorang yang dalam keadaan janabah atau berhadats besar, haram hukumnya melakukan ibadah shalat, baik shalat yang hukumnya fardhu a'in seperti shalat lima waktu, atau fadhu kifayah seperti shalat jenazah, atau pun shalat yang hukumnya sunnah seperti dhuha, witir, tahajjud.
Dasar keharaman shalat dalam keadaan hadats besar adalah hadits berikut ini :
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak diterima shalat yang tidak dengan kesucian". (HR. Muslim)

b.       Sujud Tilawah
Sujud tilawah adalah sujud yang disunnahkan pada saat kita membaca ayat-ayat tilawah, baik dilakukan di dalam shalat maupun di luar shalat.
Syarat dari sujud tilawah juga suci dari hadats kecil dan besar. Sehingga orang yang dalam keadaan janabah, haram hukumnya melakukan sujud tilawah.

c.        Tawaf
  Tawaf di Baitullah Al-Haram senilai dengan shalat, sehingga kalau shalat itu terlarang bagi orang yang janabah, otomatis demikian juga hukumnya buat tawaf.
Dasar persamaan nilai shalat dengan tawaf adalah sabda Rasulullah SAW :
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tawaf di Baitullah adalah shalat, kecuali Allah membolehkan di dalamnya berbicara." (HR. Tirmizy, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menshahihkannya)

      Dengan hadits ini, mayoritas (jumhur) ulama sepakat untuk mengharamkan tawaf di seputar ka'bah bagi orang yang janabah sampai dia suci dari hadatsnya. Kecuali ada satu pendapat menyendiri dari madzhab Al-Hanafiyah yang menyebutkan bahwa suci dari hadats besar bukan syarat sah tawaf, melainkan hanya wajib. Sehingga dalam pandangan yang menyendiri ini, seorang yang tawaf dalam keadaan janabah tetap dibenarkan, namun dia wajib membayar dam, berupa menyembelih seekor kambing.
Pendapat ini didasarkan pada fatwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang menyebutkan bahwa menyembelih kambing wajib bagi seorang yang melakukan ibadah haji dalam dua masalah : [1] bila tawaf dalam keadaan janabah, [2] bila melakukan hubungan seksual setelah wuquf di Arafah.

d.       Memegang atau Menyentuh Mushaf
Jumhur Ulama sepakat bahwa orang yang berhadats besar termasuk juga orang yang haidh dilarang menyentuh mushaf Al-Quran. Dalilnya adalah firman Allah SWT berikut ini :
`Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.` . (QS. Al- Waqi’ah ayat 79)
Ditambah dan dikuatkan dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini :
Dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah SAW kepada ‘Amr bin Hazm tertulis : Janganlah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali dia dalam keadaan suci”.(HR. Malik).

e.        Melafazkan Ayat-ayat Al-Quran
Empat madzhab yang ada, yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah, semuanya sepakat bulat mengharamkan orang yang dalam keadaan janabah untuk melafadzkan ayat ayat Al-Quran.
Dari Abdillah Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasululah SAW bersabda,"Wanita yang haidh atau orang yang janabah tidak boleh membaca sepotong ayat Qur’an (HR. Tirmizy).
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata bahwa Rasulullah SAW tidak terhalang dari membaca Al-Quran kecuali dalam keadaan junub. (HR. Ahmad)

        Larangan ini dengan pengecualian kecuali bila lafadz Al-Quran itu hanya disuarakan di dalam hati. Juga bila lafadz itu pada hakikatnya hanyalah doa atau zikir yang lafadznya diambil dari ayat Al-Quran secara tidak langsung (iqtibas). Namun ada pula pendapat yang membolehkan wanita haidh membaca Al-Quran dengan catatan tidak menyentuh mushaf dan takut lupa akan hafalannya bila masa haidhnya terlalu lama. Juga dalam membacanya tidak terlalu banyak. Pendapat ini adalah pendapat Malik.
Diriwayatkan bawa Ibnu Abbas radhiyalahu anhu dan Said ibnul Musayyib termasuk pihak yang membolehkan wanita haidh melafadzkan ayat-ayat bahkan keseluruhan Al-Quran.

f.       Masuk ke Masjid
Seorang yang dalam keadaan janabah, oleh Al-Qur’an Al-Karim secara tegas dilarang memasuki masjid, kecuali bila sekedar melintas saja.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.(QS. An-Nisa' :43)
Selain Al-Quran, Sunnah Nabawiyah juga mengharamkan hal itu :
Dari Aisyah RA. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh`. (HR. Bukhari, Abu Daud dan IbnuKhuzaemah).
Apabila haidh tiba, tinggalkan shalat, apabila telah selesai (dari haidh), maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan Muslim)


7.      TATACARA MANDI JINABAH
       Mandi Janabah tentu bukan hal yang asing bagi orang yang sudah dewasa. Namun bagaimana tatacara mandi janabah seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tentu masih sedikit yang tahu. Tidak ada perbedaan cara mandi janabah antara laki-laki dan wanita.

Caranya:
-          Niat di dalam hati dan tidak diucapkan
Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhubahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sesungguhnya amalan-amalan seseorang tergantung niatnya,dan seseorang akan mendapatkan balasan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari I/9 hadits no. 1) dan Muslim (I/1515 hadits no.1907))
Adapun niat cukup dalam hati tanpa perlu melafadzkannya. Mengenai bacaan niat “Nawaitu rof’al hadasil akbar …..” tidak ditemukan ada dalilnya.
-          Membaca Bimillah
Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya. Lihat Irwa’ Al Ghalil hadits no.81, syaikh Al Albani menghasankan hadits ini karena ada banyak jalur periwayatan dan penguat (syawahid).
-          Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan/dicelupkan ke dalam bejana/tempat air.
-          Menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu digunakan untuk mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
-          Tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan digosokkan/diusapkan ke bumi/tanah atau ke tembok sebanyak dua atau tiga kali dilakukan dengan sungguh-sungguh.
ثُمَّ ضَرَبَ بِــشِمَاْ لِهِ اْلأَرْضَ ، فَدَلّـَـكَهَا دَلْــكًا شَدِيْدًا …
“Kemudian Beliau mengusap tanah dengan tangan kirinya lalu menggosoknya dengan gosokan yang sungguh-sungguh…” (HR. Muslim no.720).

-          Berwudhu sebagaimana wudhu hendak Shalat

-          Memasukkan jari jemarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya sampai dipastikan kulit kepala terkena air. Setelah itu menuangkan air sepenuh 2 telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali siraman.
“ Kemudian Beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga ketika Beliau memastikan telah membasahi kulit kepalanya, Beliau pun menuangkan air ke kepalanya tiga kali” (HR. Bukhari no.272 dan Muslim no.716).
Ketika membasuh kepala dimulai dari belahan rambut bagian kanan kemudian kiri setelah itu bagian tengah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata :
أَمَّا أَ نَا, فَأُفِيْضُ عَلَى رَأْسِيْ ثَلاَ ثًا
“Adapun aku, aku menuangkan air ke kepalaku tiga kali.”Dan Beliau mengisyaratkan dengan kedua tangannya. (HR. Bukhari no.254 dan Muslim no.738).
“Rasulullah mengambil air dengan telapak tangannya lalu mulai menuangkannya ke belahan kepalanya yang kanan kemudian yang kiri” (HR. Bukhari no.258 dan Muslim no.723).

-          Membasuh dan meratakan air ke seluruh tubuh
-          Bergeser sedikit dari tempat semula lalu mencuci kakisebagaimana hadits Maimunah radhiallaahu ‘anha :
“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat hanya saja Beliau tidak mencuci kakinya. Dan (sebelumnya) Beliau telah mencuci kemaluannya dan kotoran yang mengenainya. Kemudian Beliau menuangkan air ke atas tubuhnya, setelahnya Beliau memindahkan kedua kakinya(berpindah dari tempat semula), lalu mencuci keduanya.” (HR. Bukhari no.249 dan Muslim no.720).
Adapun hikmah diakhirkannya mencuci kaki, Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullaahuberkata : “Hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki agar dalam mandi janabah itu diawali dan diakhiri dengan membasuh anggota wudhu.” (Fathul Bari, I/470).

-          Tidak Berwudhu lagi setelah mandi
‘Aisyah radhiallaahu ‘anha mengabarkan :
“Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mandi dan setelahnya shalat dua rakaat (qabliyyah shubuh) dan shalat shubuh dan aku tidak melihat Beliau memperbaharui wudhu setelah mandi”. (HR. Abu Dawud no.250, dishahihkan Syaikh Albani  dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Dengan demikian bila seseorang hendak mengerjakan shalat setelah mandi janabah maka wudhu yang dilakukan saat mandi janabah telah mencukupinya selama wudhu tersebut belum batal, sehingga ia tidak perlu mengulangi wudhunya setelah mandi.

-           Mengeringkan air dari tubuh dengan mengeringkan/mengibaskan air dengan tangan.
Hadits Maimunah radhiallaahu ‘anha disebutkan :
“….Maimunah berkata : Aku pun memberikan kain/handuk kepada Beliau (untuk mengusap/mengelap tubuh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam) namun Beliau tidak menginginkannya. Maka mulailah Beliau mengibaskan air dengan tangannya.” (HR. Bukhari no.274 dan Muslim no.720).
Dari ucapan Maimunah radhiallaahu ‘anha tentang perbuatan RasulullahShallallaahu ‘alaihi wasallam ketika selesai mandi :
وَجَعَلَ يَقُوْلُ بِا لْمَاْءِ هَكَذَا
(Mulailah Beliau melakukan begini terhadap air yang menempel di tubuhnya) yakniيَنْفُضُهُ mengibaskannya (HR. Muslim no.722) ada dalil tidak terlarangnya mengibaskan atau menepiskan air dengan tangan dari anggota tubuh setelah wudhu dan mandi. (Subulus Salam, I/141).



8.      HIKMAH MANDI JANABAH
        Mandi merupakan salah satu cara bersuci dalam rangkaian ibadah yang secara umum mengandung hikmah bagi manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 6 yaitu:

Artinya :
“Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu, supaya bersyukur”.

Adapun hikmahnya yaitu :
1. Dapat menetralisasi pengaruh kejiwaan yang ditimbulkan akibat pergaulan seksual.
2. Dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran , dan membersihkan kotoran.
3. Menambah kekhusyuan dalam beribadah
4. Dapat memulihkan kesadaran, kesegaran dan ketenangan pikiran


Hasil wawancara kepada dosen UMSU :
1.      Ahmad hasen hutagaluh (dosen pgra/pbs)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: mandi suci bagi mereka yang berhubungan suami istri
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: penyebabnya karena sunnah rasullah yang disunahkan daan lebih mensucikan perjalanan hidup.disebabkan oleh hubungan pasutri, mimpi basah, haid, dan nifas.
c.       Kategori hukum mandi zinabat?
Jawab: niat dalam hati, menghadap kiblat, berwudhu, membersihkan kemaluan, meratakan air keseluruh tubuh dimulai dari kanan ke kiri. Disertai dengan sabun dan wewangian sangat dianjurkan.
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: hikmahnya terhindar dari perbuatan kufur dan tercela. Para malaikat akan mendoakan kita dan hidup akan bahagia dan tentram.
2.      Nahar.A. Ghani., Lc, M.A (dosen Fai)
Pertanyaan:
a.  Apa itu mandi zinabat?
Jawab: cara mandi dengan beberapa syarat dam ketentuan yang disyariatkan.
b. Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: penyebabnya yaitu haid, nifas, bersetubuh, keluar mani.
c.  Tata cara mandi zinabat?
Jawab: berniat (bassmallah), membasuh kedua tangan, membasuh kemaluan dengan tangan kiri dicuci dan di gosok kelantai, berwudhu, menyiram kepala sampai keakar-akarnya dengan air dan wangi-wangian.
d.                   Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: untuk menyegarkan kembali tubuh yang lemah karena sebelumnya itu disebabkan oleh sesuatu yang melesukan kita.
3.      Taufik harahap (dosen Fai)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: mandi yang diwajibkan bagi seorang muslim untuk membersihkan diri dari hadast besar.
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: keluar mani baik dalam keadaan terjaga, maupun dalam keadaan tidur, bersetubuh, haid dan nifas, mati.
c.       Tata cara mandi zinabat?
Jawab: wajib
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: hikmahnya dengan melaksanakan mandi jinabah kita akan mendapatkan kebaikan dan pahala karena pelakunya melaksanakan kewajiban syariat. Selain itu, dengan mandi jinabah tubuh akan menjadi segar dan bersih.

4.      Radjuki Nainggolan (dosen Fai)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: mandi wajib.
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: setelah hubungan pasutri, keluar mani, menjelang bulan puasa, dan lebih baiknya kalau mau sehat juga biar lebih bersih.
c.       Tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, membasahi seluruh badan dari ujung kaki, sampai ujung rambut.
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: bersih terhindar dari kotoran baik dari dalam maupun dari luar tubuh.

5.      Muhammad Parlindungan Lubis (dosen Fisip)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: mandi wajib.
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: hubungan pasutri, keluar mani, nifas.
c.       Tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, membasahi seluruh badan.
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: bersih dan suci jasmani dan rohani.
6.      Jusman Lesmana (dosen Fkip)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: membersihkan hadast besar dan hadast kecil sehingga suci dan bersih.
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabat?
Jawab: karena kotor, misalnya karna ada keluar dari kemaluan, seperti nifas, tak sengaja keluar mani.
c.       Tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, mengucapkan basmallah, mendahulukan sebelah kanan, dan memakai sabun, membasuh kemaluan, dua tangan, wudhu(boleh diawal atau diakhir), membasuh badan 3x , membasuh seluruh badan dari ujung rambut hingga ujung kaki, membasuh kaki.
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: bersih jasmani dan rohani.

7.      Indra Pasetra (dosen ekonomi)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabat?
Jawab: mandi dengan menggunakan air bersih dan suci dengan mengalirnya air tersebut keseluruh tubuh mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.
b.      Apa penyebabnya sehinggah seseorang mandi zinabah?
Jawab: keluar air mani, bersetubuh
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, membersihkan seluruh badan , hilangkan najis bila ada.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: untuk menyucikan segala kotoran (najis maupun hadist).
8.      Muhammad Iqbal (dosen pertanian)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib atau mandi junub
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: karena kotor
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, membaca basmallah, membasuh dua tangan, mencuci kemaluan, wudhu, membasuh badan 3x (didahulukan kanan), membasuh kaki (didahulukan kanan).
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: membersihkan tubuh, terhindar dari penyakit, tidak merasa ragu kalau bersih dan suci.
9.      Pandapotan Ritonga (dosen ekonomi, akuntansi)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib atau mandi junub.
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: kerana hadast besar seperti mimpi basah, hubungan pasutri, haid, nifas.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, basahkan tubuh kanan terdahulu 3x lalu kiri 3x, seluruh badan 3x, mencuci kaki 3x kanan dulu lalu kiri.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: merasa tenang karena badan bersih dan suci.
10.  Dewi Maharani, S.pd, M.si
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: untuk membersihkan dari hadast besar
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: berhubungan pasutri bagi pasangan yang halal, nifas, mimpi basah, orang mabuk, seorang mualaf.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, menyiramkan mtubuh sebelah kanan lalu kiri sebanyak 3x dimulai dari kepala, membersihkan semua bagian-bagian tubuh, sampai kebagian yang sulit dicapai air, contoh lubang hidung, berwudhu.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: dengan mandi wajib junub kita bisa melakukan ibadah karena telah bersih. Syarat ibadah adalah bersih dari hadast besar maupun kecil.
11.  Heri Wahyudi, SE, M.si (dosen f.ekon dan fai)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi yang membersihkan najis
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: mimpi basah, haid, hubungan pasutri.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, membersihkan kemaluan, membasuh badan keseluruh tubuh
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: badan menjadi bersih, terhilangkan dari najis.
12.  Arnida Wahyuni (dosen Fai)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi yang mensucikan dari hadast besar dan kecil.
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: haid, keluar mani, bersetubuh.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, menghadap kiblat, membasuh air keseluruh tubuh.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: menjadi suci dan bisa melaksanakan ibadah.
13.  Ihsan Rambe, SE, M.si
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib untuk menghilangkan hadast besar karna Allah ta’alla
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: karena haid,nifas, berhubungan pasutri, keluar mani.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, membasuh tangan, membasuh kemaluan, mebasuh seluruh badan, membasuh kaki, dan dimulai dari kanan lalu kiri.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: membersihkan kita dari hadast besar.
14.  Azwar Juliandi, SE., S.Sos
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib yang harus dilaksanakan ketika kita kotor karena najis.
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: haid, keluar mani, berhubungan, nifas.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, membasuh seluruh badan.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: terhindar dari najis yang kita lakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja.
15.  Dr. Faisar Ananda, MA.
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: haid, keluar mani, nifas, berhubungan pasutri, mimpi basah.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat karna Allah ta’alla, wudhu, bersihkan seluruh badan, memakai wewangian seperti sabun.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: terhindar dari kotoran yang melekat pada tubuh kita.
16.  Hj. Maya Sari. SE. AK., M.si
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib untuk yang melakukan hadast besar.
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: haid, nifas, berhubungan, keluar mani.
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, bersihkan kemaluan, membasuh seluruh badan.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: agar bersih dari kotoran yang kita lakukan.
17.  Isra Hayati
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib menurut islam
b.      Apa penyebabnya sehingga seseorang mandi zinabah?
Jawab: haid, nifas, keluar mani, meninggal, bersetubuh
c.       Tata cara mandi zinabah?
Jawab: niat, wudhu, membasuh badan dari ujung rambut hinggan ujung kaki.
d.      Apa hikmah mandi zinabah?
Jawab: mensucikan diri dari hadast besar karena Allah ta’alla.
18.  Hj. Siti Mujiatun (dosen ekonomi)
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib yang diharuskan ketika kita kotor.
b.      Apa penyebabnya sehingga seorang mandi zinabah?
Jawab: haid, nifas, melahirkan, keluar mani, mimpi basah, bersetubuh.
c.       Bagaimana tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, wudhu, membasuh seluruh badan hingga kaki
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
Jawab: wajib, karena membersihkan kita dari hadast besar.
19.  Salman Nasution
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib karna sesuatu yang kotor.
b.      Apa penyebabnya sehingga seorang mandi zinabah?
Jawab: haid, mimpi basah, bersetubuh.
c.       Bagaimana tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, wudhu, membersihkan tangan, kemaluan dan seluruh tubuh.
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
      Jawab: agar terhindar dari kotoran yang kita buat.
20.  Dr.Satria Tirtayasa
Pertanyaan:
a.       Apa itu mandi zinabah?
Jawab: mandi wajib yang diharuskan ketika kita kotor.
b.      Apa penyebabnya sehingga seorang mandi zinabah?
Jawab: haid, bersetubuh, keluar mani, nifas.
c.       Bagaimana tata cara mandi zinabat?
Jawab: niat, wudhu, membasuh seluruh badan dari ujung rambut hingga kepala
d.      Apa hikmah mandi zinabat?
       Jawab: terhindar dari kotor, kita menjadi bersih.
                                                                                                            











BAB III
 PENUTUP

A.    SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.     Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadas besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat.
2.    Keluar mani, bertemunya dua kemaluan, meninggal, haid, nifas, dan melahirkan
3.    Niat, Menghilangkan najis, dan Meratakan air.
4.    Mencuci kedua tangan, Mencuci dua kemaluan, Membersihkan najis, Berwudhu, Sela-sela jari, Menyiram kepala, Membasahi seluruh badan, sMencuci kaki
5.    Mendahulukan anggota kanan, Tidak perlu berwudhu lagi setelah mandi.
6.    Sholat, Sujud Tilawah, Tawaf,  Memegang atau menyentuh mushaf, Melafazkan Ayat-ayat Al-Qur’an, Masuk ke Masjid
7.    a. Niat di dalam hati dan tidak diucapkan
b. Membaca Bimillah
c. Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan/dicelupkan ke dalam bejana/tempat air.
d. Menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu digunakan untuk mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
e. Tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan digosokkan/diusapkan ke bumi/tanah atau ke tembok sebanyak dua atau tiga kali dilakukan dengan sungguh-sungguh
f. Berwudhu sebagaimana wudhu hendak Shalat
g. Memasukkan jari jemarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya sampai dipastikan kulit kepala terkena air. Setelah itu menuangkan air sepenuh 2 telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali siraman.
h. Membasuh dan meratakan air ke seluruh tubuh
i. Bergeser sedikit dari tempat semula lalu mencuci kakisebagaimana hadits Maimunah radhiallaahu ‘anha :
j. Tidak Berwudhu lagi setelah mandi.


itulah tata cara mandi jinabah apabila ada kesalah pahaman serta keliru mohon untuk mencari artikel lain untuk mencari kebenaran yang lain
terimakasihhh :)




Komentar